Dokter Penembak Istrinya Mengaku Kalau Mengami Gangguan Psikologi

dokter
Dokter Helmi, dokter penembak istri sendiri, mengaku mengalami gangguan psikotik. Ketika hendak diperiksa penyidik Direktorat Reserse Melanggar Awam Polda Metro Jaya, Jumat (10/11), terhadap wartawan, Helmi menyatakan hal itu.

“Gangguan psikotik,” ujar Helmi.

Psikotik ialah gangguan jiwa dengan tanda tidak mampu menyadari kenyataan yang terjadi, umpamanya terdapat halusinasi, waham atau perilaku aneh.

Helmi menjalani pemeriksaan atas tindakannya menembak mati istrinya Letty, di Az-zahra Medical Center, Dewi Sartika, Cawang, Kramatjati, Jakarta Timur. Helmi menyerahkan diri ke polisi setelah dia menembak istrinya, Kamis (10/11).

Kata Helmi, karena gangguan psikotik yang diamalami itulah dia mengonsumsi obat penenang bernama benzodiazepine.

Helmi juga mengaku mengalami halusinasi. Dia mendengar bunyi-bunyi yang memerintahkannya untuk menembak sang istri. Namun dia tidak menerangkan secara rinci perihal halusinasi yang dialaminya.

“Perintah (untuk menembak),” ujarnya.

Helmi meyakini, Letty akan mengalami reinkarnasi setelah kematiannya. “Reinkarnasi, segala yang mati pasti akan pindah ke tubuh yang lain,” kata dia “Jiwa Letty akan datang ke tubuh yang lain dan aku berharap ngejar dia.”

Polisi menemukan dua senjata api rakitan milik Helmi. Belum dikenal asal senjata api itu.

Kejiwaan Belum Diperiksa

Kepala HUMAS Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono berkata bahwa polisi belum memiliki rencana untuk memeriksa kejiwaan dokter Helmi.

Menurut Argo, selama pemeriksaan Helmi bisa menjawab setiap pertanyaan dari penyidik dengan lancar.

“Kami kemarin ngetes tetapi bisa dicek ceritanya yang aku dapatkan dari dia, seperti dia menyiapkan segala, ditanya juga dia jawab siapa namanya, keluarganya segala lancar,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya.

Argo mengatakan, Helmi tidak melantur dan menyimpang dari pertanyaan penyidik, sebab itu polisi belum berencana memeriksa kejiwaan Helmi.

Scroll To Top
%d bloggers like this: